Belajar Bisnis Tanpa Praktik Hanya Membuang Waktu, Action Now!

Satu ilmu akan lebih berguna jika dipraktikkan sepuluh kali dibandingkan sepuluh ilmu yang dipraktikkan hanya sekali, bahkan tidak sama sekali.

Ceroboh.com – Perkenalkan, saya Devi Sumayya dari Kendal, Jawa Tengah. Selain berbisnis, saya adalah ibu rumah tangga dari satu baby yang masih piyik. Menjadi seorang ibu dan muslimah yang produktif adalah visi dan tujuan saya. Sekarang, izinkan saya menceritakan sedikit tentang pengalaman saya saat terjun di dunia bisnis.

Perjalanan awal saya memulai bisnis dimulai ketika saya masih duduk di bangku kuliah. Mungkin sekitar tiga tahun yang lalu. Waktu itu saya semester tiga, dan sedang semangat-semangatnya mengikuti jejak kakak saya, yang notabene-nya seorang reseller produk fashion muslim Solo. Mungkin bagi teman-teman yang pernah ke Beteng Trade Center Solo, sudah tidak asing lagi denganonline shop soloan yang melimpah.

Nah, dari jualan baju dan gamis soloan ini, saya lumayan mendapat banyak pembeli. Rata-rata sih, tetangga dan teman-teman kampus. Tapi ya itu, yang beli cuma itu itu saja. Dan alhamdulillah, saat itu keuntungan saya—walau cuma puluhan hingga ratusan ribu saja, ia bisa sedikit membantu menghidupi anak kos ini.

Selain jualanonline, saya juga menyambi kerja menjadi guru les dan karyawan jasa pengetikan di sekitar kampus. Lumayan juga, bisa membantu pembayaran uang kos dan memenuhi ‘ritual shopping’saya. Tapi pekerjaan tersebut tidak bertahan lama, karena bagi saya, hal tersebut terlalu memakan waktu dan tenaga. Sedangkan semester dan umur semakin tua serta kegiatan semakin membludak.

Saat itu yang saya pikirkan adalah, bagaimana cara mendapatkan uang tanpa memakan banyak waktu. Akhirnya saya tetap menjalankan bisnis jualan baju dan mendirikan bisnis lain yang sesuai dengan jurusan kuliah yang saya ambil. Nah, karena saya berkuliah di bidang Statistika atau analisa data, jadi saya mengajak serta tiga teman kampus untuk mendirikan “Jasa Olah Data”.

Menurut saya, bisnis yang kami bangun ini merupakan bisnis yang sangat menguntungkan dibandingkan bisnis baju. Karena sekali olah data, tim kami bisa mendapat ratusan ribu bahkan di atas satu juta. Sekali olah, loh! Sedangkan mahasiswa di kampus kami, yang membutuhkan bimbingan skripsi banyak sekali. Sehingga saat itu, saya bisa mendapatkan omset jutaan. Dan alhamdulillah, habis untuk membayar registrasi kuliah. Hehehe….

Untuk yang kedua kalinya, bisnis tersebut tidak bertahan lama. Karena saya tidak memiliki ilmu marketing yang cukup dan tim kami menjadi tidak solid. Faktor lainnya, saya berpikir bisnis ini tidak sesederhana seperti bisnis jual baju yang langsung sampai ke customer dan selesai. Tidak jarang, kami mendapatkan keluhan dan revisi karena pembimbing skripsi customer tidak sejalan dengan pemikiran anak statistik. Jadi setelah wisuda, saya memutuskan untuk vakum terlebih dahulu dari dunia bisnis statistik dan menikah. Ciyee~

Setelah itu, saya menemukansupplieryang cocok dengan saya sampai sekarang—masih dengan jualan baju muslim. Tapi karena keserakahan saya saat itu, saya mencoba menjual apapun yang bisa saya jual. Asal ambil saja dari marketplacesembarang, tanpa supplier tanpa ilmu. Pada akhirnya, jualan saya menjadi kacau, amburadul dan tidak terarah. Jangankan closing, yang tanya-tanya saja jarang. Tapi, semua berubah ketika suatu hari saya mendapatkan pencerahan.

Melalui kulwa (Kuliah Whatsapp) gratisan, saya menemukan seorang mentor bisnis. Ceritanya mentor tersebut mengadakan edukasi bisnis berbayar dan saya nekat join. Kenapa nekat? Karena itu adalah e-course online bisnis pertama yang saya ikuti. Melalui edukasi ini, saya menemukan pencerahan. Karena bersama mentor saya tersebut, saya menjadi terketuk hatinya bahwa berdagang bukan untuk mendapatkan omset semata. Tapi ini merupakan salah satu bentuk ibadah kita kepada Allah. Jadi sebelum jualan, pastikan kita menebar manfaat terlebih dahulu. Dan tentu, ia berhasil membuat saya fokus pada satu bisnis. Artinya, setelah itu, tidak semua barang saya jual seperti yang saya lakukan sebelumnya.

Setelah memiliki mentor, omset saya meningkat—meski belum seberapa. Saya fokus kepada hal-hal yang mentor saya berikan. Semangat saya dalam menimba ilmu bisnis, tiba-tiba saja naik berlipat-lipat. Saking semangatnya, saya sampai mengikuti e-course sana sini, tidak peduli itu berbayar ataupun gratisan.

Semua ilmu saya pelajari. Mulai dari pondasi bisnis online, funelling, whatsapp marketing, personal branding, teknik closing bahkan copywriting. Semuanya ingin saya kuasai. Sayangnya, semua itu tidak pernah saya praktikkan. Alhasil, saya hanya asyik mencari ilmu sana sini sampai tidak sempat berjualan.

Dengan kesibukan ngilmu saya yang kemana-mana tanpa dipraktikkan dan tidak menghasilkan apapun, saya menjadi sadar, seharusnya ilmu itu dipraktikkan dan dievaluasi. Ibarat matematika, 1×10 akan jauh lebih baik dibandingkan 10×1. Maksudnya, satu ilmu akan lebih berguna jika dipraktikkan sepuluh kali dibandingkan sepuluh ilmu yang dipraktikkan hanya sekali, bahkan tidak sama sekali.

Saat ini, saya memutuskan untuk fokus menjadi reseller produk baju muslim saja. Kemudian turut serta membersamai Kang Yazid menjadi partner Success Reseller (SR). Karena di Success Reseller ini, saya diajarkan untuk menjadi reseller yang ber-mindset omset, bukan ber-mindset jabatan.

Di sela kebangkitan saya dari keserakahan tadi, saya berpendapat bahwa bersama orang-orang hebat kita juga akan merasakan kehebatan mereka. Oleh karena itu, berkumpullah bersama orang-orang hebat. Siapa tahu kita sampai tahap nular juga kehebatannya, bukan?

Di Success Reseller, misalnya. Kita akan dikumpulkan bersama orang-orang hebat yang belajar bersama. Nah, di SR ini saya sangat bersyukur karena berkumpul dengan teman-teman yang hebat. Hebat karena kami sama-sama ingin berkembang dan menjadi lebih baik dengan mengikuti training.

Langkah yang tepat juga untuk teman-teman gabung yang sudah bergabung SR. Karena di sini kita bukan diajarkan teori semata. Tapi juga praktik. Cerita pengalaman saya ini, contohnya. Apakah saya bisa nerocos cerita sesemangat ini kalau tidak dipaksa Kang Yazid? Hahaha.

Walau sekarang tidak terasa, pasti suatu saat ilmu dan praktik kita nanti akan berguna bagi bisnis kita. InsyaAllah.(*ds)

BERI KOMENTAR