Review Black Mirror Nosedive—Menilai Manusia Berdasarkan Rating

Pada Black Mirror “Nosedive” ini, yang menjadikan faktor penentu seseorang dalam menjalani aktifitas dan kehidupannya adalah rating.

Ceroboh.com – Yeay! Finally saya sudah me-review (lebih tepatnya memberikan sedikit analisis) mengenai serial antologi bertema teknologi yang gelap dan sarkas milik C. Brooker: Black Mirror Season 3 Episode 1 berjudul Nosedive.

Trailer Black Mirror “Nosedive”


Sinopsis Black Mirror “Nosedive”

Episode Nosedive ini bercerita mengenai rating yang dijadikan penentu seberapa keren seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Sebut saja seorang gadis lajang bernama Lacie, yang merupakan tokoh utama dalam Nosedive.

Cerita ini berawal ketika Lacie jogging di komplek perumahannya. Lacie bertemu dengan banyak orang. Mulai dari tetangga, hingga teman-temannya. Dalam adegan tersebut, setiap orang selalu menggenggam sebuah handphone yang digunakan untuk memberikan rating kepada orang lain yang ditemuinya. Hal ini juga berlaku di kantor tempat Lacie bekerja, tempat makan—dan bisa jadi seluruh tempat umum yang membutuhkan rating.

Lacie berusaha untuk tersenyum ramah kepada orang lain, sebisa mungkin berbuat baik kepada orang lain. Tak terkecuali juga memberikan rating poin 5 kepada orang-orang agar rating miliknya tetap stabil (saat itu rating Lacie 4.2). Sebab, memberikan rating kepada orang lain memengaruhi rating miliknya. Intinya Lacie sangat sangat menjaga agar rating-nya semakin naik.

Berbeda dengan Lacie, adiknya, Ryan, yang saat itu tinggal satu kontrakan dengan Lacie justru tak mempedulikan rating kehidupan. Yang seolah-olah mengekang gerak bebas seseorang. Dan Ryan ini seperti malas keluar rumah karena adegan Ryan hanya di dalam rumah saja. Mungkin Ryan adalah gambaran dari orang-orang yang don’t give a sh*t terhadap sosial media, lengkap dengan segala kepura-puraannya.

Konflik di “Nosedive”

Pada suatu hari, Lacie harus menghadapi permasalahan mencari tempat tinggal baru. Karena kontrakan yang ditempati bersama adiknya akan dijual oleh pemilik kontrakan.

Selanjutnya Lacie memutuskan mencari tempat tinggal baru di Pelican Love—sebuah kawasan elit yang mahal. Pihak Pelican Love kemudian menawarkan diskon 20 persen buat orang-orang yang memiliki rating di atas 4.5. Sementara Lacie saat itu justru ratingnya semakin menurun.

Untuk menaikkan ratingnya demi diskon tersebut, Lacie harus bergaul dengan orang-orang yang memiliki rating di atas 4.5 agar ratingnya naik. Dan kebetulan, waktu itu Lacie diundang di acara ulang tahun temannya—Naomi. Tentu saja Lacie sangat kegirangan bahagia. Sebab rating Naomi saat itu 4.8.

Hari ulang tahun Naomi telah tiba. Lacie sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Sayang seribu sayang, perjalanannya menuju acara ulang tahun Naomi tak semulus itu. Dia bertemu dengan banyak rintangan di jalan—yang membuat ratingnya semakin anjlok.

Mengetahui hal ini, Naomi kemudian menelepon Lacie untuk tak perlu hadir di acara ulang tahun Naomi karena ratingnya telah anjlok sedemikian drastis. Sebab, jika Naomi tetap memberikan izin Lacie, tentu saja akan membuat rating Naomi menurun.

Lacie kesal, dong! Udah capek-capek perjalanan dengan segala persiapan matang, di tengah jalan justru disuruh pulang. Karena kesal, Lacie tetap memaksakan diri untuk masuk ke dalam acara ulang tahun Naomi—gimanapun caranya, bagaimanapun keadaannya.

Sesampainya di tempat ulang tahun Naomi, Naomi dan para tamu lain terkejut. Apalagi saat itu Lacie kotor penuh lumpur karena sempat dilarang tak boleh masuk ke acara tersebut. Lacie lalu mengambil paksa mikrofon di depannya, dan sontak mengeluarkan segala uneg-uneg di kepalanya. Semakin lama dia berbicara panjang, orang-orang kemudian memberikan rating rendah hingga 0.6. Lacie tak peduli, karena baginya rating sudah bukan menjadi hal penting lagi.

Terakhir Lacie harus dijebloskan ke penjara karena dianggap membuat onar. Di penjara Lacie saling memaki dan mengeluarkan segala kemarahan dan uneg-uneg dengan orang kulit hitam yang juga dipenjara—tanpa peduli lagi dengan rating.

“Nosedive”, Kita dan Sosial Media?

Cerita Nosedive seperti telah menyindir kita yang kini hidup di zaman sosial media dengan segala bentuk sistem rating di dalamnya. Kita seperti terbelenggu dalam sebuah penilaian yang berskala 1 hingga 5.

Misalnya saja, memberikan rating tempat dan makanan di aplikasi Local Guide milik Google, memberikan rating produk-produk tertentu di marketplace penjualan Shopee, Tokped, Bukalapak dsb, memberikan rating kepada abang-abang Gojek dan abang-abang Grab yang baru kita pakai jasanya.

Selanjutnya ini juga berpengaruh terhadap hubungan sosial antar kita. Misalnya saja, selebgram yang memiliki followers banyak, tak pantas bergaul dengan pemilik akun abal-abal yang followersnya hanya ratusan saja.

Saya juga pernah mendapati di Twitter. Ketika akun Twitter yang akunnya bercentang biru di-reply dengan pemilik akun Twitter yang akunnya juga bercentang biru juga. Pemilik akun Twitter abal-abal? Abaikan. Bukan orang populer, kan?

Kita juga mirip dengan Lacie. Yang berusaha tampil ramah, baik, menawan demi agar terlihat menarik dan kemudian berharap orang akan memberikan semacam love, like atau comment yang banyak di akun-akun sosial media milik kita seperti di Instagram, Twitter, Facebook dan sebagainya.

Dari Lacie kita belajar bahwa, hidup di era sosial media membuat kita seolah-olah menjadi pengemis rating. Meski harus berpura-pura, kehilangan diri sendiri dan akhirnya terjebak dalam sebuah penilaian semu tiada batas.

Lihat review Black Mirror episode lainnya:

BERI KOMENTAR