Dakwah, Tidak Sesimpel Tausiyah Satu Menit Ustadz-Ustadz di Instagram

ceroboh.comBahwa hidup tak sesederhana video-video tausiyah satu menit ustadz-ustadz di Instagram dan di Youtube

Dakwah, Tidak Sesimpel Tausiyah

Karena beberapa waktu lalu ketika saya membaca sebuah utas dari salah seorang teman di Twitter yang membahas tentang cara mengajak kebaikan tanpa embel-embel judgement, saya jadi ingin sedikit mengutarakan hati juga terkait hal ini. Sebenarnya ini sensitif, tapi hati saya sudah ingin bersuara sejak dulu sekali. Akhirnya ditulis saja. Hehehe.

Saya sendiri bisa dibilang santri kok, meski nggak santri-santri amat. Saya hidup di lingkungan santri dan lingkungan pendakwah. Meski saya pribadi bukan pendakwah. Tapi sedikit banyak saya tahu, berdakwah yang efektif dan efisien itu yang seperti apa sih, kira-kira?

Ada satu pertanyaan muncul di kepala saya:

Sebelum kebaikan-kebaikan yang kita sampaikan kepada orang lain diterima oleh mereka, apakah mereka-mereka—orang-orang yang didakwahi—akan tersentuh, atau justru malah akan tersakiti oleh kata-kata dari kita?

Oke, mari kita contohkan dengan perbandingan pernyataan. Kalimat pertama:

“Ayo akhi, sholat ke masjid yuk. Supaya semakin khusyu’ sholatnya. Rame pula, banyak temen. Jadi seru pastinya kan.”

Kalimat kedua:

“Cowok kok, sholatnya di rumah. Cowok tuh sholatnya di masjid. Kalau cowok sholatnya di rumah ya, sono, pake mukena saja. Jangan jadi cowo sholih tapi cowok sholihah.”

Mari kita ambil contoh pernyataan lain. Kalimat pertama:

“Mending berjilbab saja, ukhti. Kan lebih nyaman. Lebih adem pula. Ya, kan?”

Kalimat kedua:

“Muslimah itu harusnya berjilbab. Gimana, sih? Coba kalau kamu aku kasih permen, kamu mau aku kasih permen yang dibungkus rapi apa yang sudah kebuka? Jelas yang dibungkus, kan? Kalau kebuka ya dilalerin nantinya.”

Enak yang mana dibacanya? Yang kalimat pertama kan?

Kalau saya berada di posisi cowok-cowok yang tidak sholat di masjid atau di posisi mbak-mbak yang nggak berjilbab, saya bukan malah sadar, justru saya kesel, nyelekit gitu kata-katanya, sih. Meski ada beberapa yang tertohok lalu manut-manut saja. Setiap orang kan, berbeda-beda.

Saya jadi ingat Cak Nun pernah bilang di salah satu forum maiyyah-nya. Kata beliau, dakwah itu yang dilihat adalah manusianya terlebih dahulu, bukan syariatnya terlebih dahulu.

Karena kondisi manusia tentu berbeda-beda. Tidak boleh disamaratakan. Kalau lihatnya syari’at terlebih dahulu ya, kelimpungan nanti Indonesia. Memangnya dakwah itu sesederhana nyampein, lalu dapat pahala begitu? Tidak ssederhana itu, Bosque.

Lalu kemudian yang kedua, tak jarang saya sering menjumpai jenis manusia yang apabila seseorang ingin menjadi baik, malah diserang, bukan malah dituntun.

“Kamu kok begitu? Nggak boleh.”

“Loh, istighfar. Jangan begitu. Dosa tauk.”

Bilangnya sambil bernada miris, pula. Akibatnya yang ingin menjadi baik malah semakin nggak bersemangat menjadi baik, yang ada makin alergi, makin menjauh.

Lalu apa hasil dari berdakwah dengan cara seperti itu?

Mereka akan berkomentar,

“Eh, pendakwah-pendakwah sekarang kok kasar-kasar ya. Jadi males gue tuh kalau udah nemu yang kayak gitu.”

Saya masih sering menjumpai hal-hal seperti ini. Yang nggak berjilbab dijauhin. Yang nggak ke masjid dijauhin. Karena beberapa dari mereka memiliki prinsip: bertemanlah dengan orang-orang baik, bukan dengan yang buruk-buruk. Kalau berteman dengan orang yang buruk, nanti ikut buruk.

Lha terus, yang buruk akan tetap buruk kalau yang baik menjauh semua? Kan, kasihan atuhlah.

Sebenarnya, orang-orang yang merasa sudah paham agama, atau yang sudah hijrah bahasa kekiniannya, orang-orang seperti itu memiliki kemungkinan sangat besar, memandang rendah orang-orang yang belum memehami islam.

Seperti yang didawuhkan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddinnya, seringkali, penyakit hati itu masuk ke dalam diri tanpa disadari. Saking menyusup pelan sekali, ia tak tampak.

Mereka seperti mengajak kebaikan, berdakwah, tapi tanpa sadar yang didakwahi dianggap lebih rendah dari mereka sendiri. Itulah kenapa Allah lebih meninggikan derajat orang-orang yang merasa nggak paham daripada orang-orang yang paham tapi merasa paling paham sendiri.

Kalau diteruskan cara berdakwah seperti itu, tak ada lagi makna dakwah bilhikmah wa mauidhotun hasanah. Orang nggak sholat langsung dihantam dengan kalimat, “Sholat dong. Umur udah makin tua, sholat masih aja bolong-bolong. Nggak takut sama Allah kamu ya.”

Orang pacaran langsung diserang, “Ih kok pacaran sih. Pacaran tuh dosa. Tau dosa diterusin aja.”

Kan lebih enak kalau seperti ini, “Gapapa yang penting masih mau sholat. Meski maghrib doing. Nanti lama-lama juga nambah, kok.”

“Nggak apa-apa. Suka mah wajar. Yang penting dikontrol ya. Lama lama juga paham nantinya.

Karena sekali lagi, keadaan setiap manusia itu berbeda-beda. Tidak sesederhana yang kita pikirkan. Jangan mudah menghakimi setiap orang. Kita tak pernah tahu apa yang melatarbelakangi seseorang tak memahami agama, menjauhi agama, enggan mempelajari agama dan sebagainya.

Untuk masalah dalil, saya kira semua orang bisa ndalil. Tinggal cari saja di Google, nanti juga ketemu. Menurut survei saya sendiri, sih. Ada sebagian orang yang sudah sangat bosan disuguhi dalil. Mereka hanya butuh dimengerti saja. Kalau memang benar-benar butuh dalil, secukupnya sajalah. Jangan sedikit-sedikit ndalil, sedikit-sedikit ndalil.

Bukan apa-apa, sih. Ini hanya masalah seni dalam berdalil supaya mudah diterima orang dengan baik. Ustadz Hanan ketika saya ikut kajiannya di Purwokerto dulu, beliau sempat berujar, “Dakwah itu memosisikan diri sebagai teman, tak perlulah keseringan berdalil. Talk less doo more. Yang ndalil cukup ulama saja.”

Alih-alih banyak berdalil, lebih baik lakukan saja kebaikan setiap harinya tanpa banyak berkata-kata. Karena yang seperti Rosul junjungan kita teladankan. Berdakwah itu jangan banyak berkata, tapi banyak-banyaklah memberi teladan.

Maka dari itu rekan-rekan, kita butuh banyak lagi waktu untuk belajar tentang cara mengajak kebaikan kepada orang lain. Dan tentu, untuk menjadi pendakwah yang baik, dibutuhkan banyak sekali ilmu. Sebab, semakin seseorang bertambah ilmunya, semakin seseorang tersebut bertambah toleransinya.

Kesimpulannya adalah, belajarlah yang banyak. Dari mana saja. Dari buku, dari berbagai lapisan masyarakat, dari lingkungan yang beragam. Supaya bertambah wawasannya untuk mengeatahui. Bahwa hidup tak sesederhana video-video tausiyah satu menit ustadz-ustadz di Instagram dan di Youtube.

BERI KOMENTAR