Menilai Seseorang Dari Wajah Sosial Medianya Belaka?

Tidak masalah. Setidaknya dua jenis manusia ini tujuannya sama. Sama-sama berjalan menuju kebaikan. Yang satu mencoba menebar kebaikan melalui sosial media. Yang satu lagi mencoba menjadi baik di dunia nyata.

Ceroboh.com – Pernahkah kamu menjumpai seseorang yang isi sosial medianya sebatas curhatan unfaedah belaka? Dan pernah juga tidak, kamu menjumpai seseorang yang isi sosial medianya adalah ayat-ayat dan hadist-hadist yang berserakan di sana? Atau kata mutiara lain sejenis?

Anggap di dunia ini ada dua jenis manusia. Yang pertama adalah orang-orang yang isi sosial medianya curhatan belaka. Yang kedua, adalah orang-orang yang isi sosial medianya ayat-ayat dan hadist-hadist serta kata mutara sejenis. Lalu kita? Kita membuat sebuah konklusi instan bahwa yang shalih itu yang isi sosial medianya adalah ayat-ayat dan hadist-hadist, dan yang curhat-curhatan itu…?

C’mon, menilai seseorang itu tak sesederhana itu, kawan.

Mari berpikir lebih luas. Bagaimana kalau ternyata orang-orang yang ndakpernah share ayat dan hadist atau kebaikan lain adalah orang yang berusaha menyembunyikan amalannya? Orang-orang yang tak suka mengumbar-umbar amal baiknya? Adalah orang baik yang hidup dalam sunyi?

Bagaimana kalau di dunia nyata, mereka adalah orang-orang yang setiap hari rajin bersedekah, rajin beribadah, rajin bangun disepertiga malam, rajin membaca Al-Qur’an, dan rajin menolong sesama?

Mereka adalah golongan orang-orang yang setiap harinya melakukan kebaikan untuk tujuan kebaikan. Melakukan kebaikan yang mengalir begitu saja. Tanpa ada tujuan khusus untuk dikenal, dipuji dan dihormati. Yang bahkan mereka sampai tidak sadar kalau mereka sedang melakukan kebaikan. Ya saking ikhlasnya itu. Saking mengalir apa adanya.

Hanya, mereka tak mau bercerita kepada orang-orang. Tak perlu saja. Bisa jadi karena mereka merasa, itu bukan bagian dari tugas mereka. Maksudnya, mereka merasa belum cukup baik untuk menyampaikan dakwah kebaikan melalui hadist dan ayat-ayat Qur’an. Yang terpenting bagi mereka hanya satu: yang penting saya melakukan apa yang menurut saya nyaman, dengan melakukan kebaikan yang saya mampu melakukannya.

Dengan cara berpikir mereka yang seperti itu, jadilah mereka merasa lebih rendah. Merasa bukan apa-apa jika dibandingkan dengan orang-orang yang ilmu agamanya terlihat banyak dan mumpuni. Yang setiap hari mengikuti kajian, yang setiap hari share kebaikan. Yang setiap harinya tilawah Qur’an.

Sungguh, orang-orang seperti ini bisa jadi adalah orang-orang yang malah lebih dicintai Allah daripada orang yang memiliki banyak ilmu agama, tapi malah membuatnya merasa lebih tinggi dan lebih waw daripada mereka-mereka—yang ilmu dan amalannya, bisa dibilang kurang.

Bahkan terkadang orang-orang jenis pertama ini sampai tidak sadar, dalam senyap kebaikannya, justru membuat orang-orang sekitar menjadi kagum atas kebaikan yang dilakukannya. Semisal dia rajin menolong sesama, tanpa sadar ada orang di sampingnya yang terispirasi dan tergerak untuk melakukan hal yang sama.

 “Waaaah si Y keren banget. Bersedekah dan memberi pertolongan kayak yang nggak ada beban. Kok aku jadi pengen niru dia.”

Di pesantren tempat saya nyantri, saya punya seorang teman. Sebut saja namanya Juriyah. Juriyah ini termasuk anak yang rajin sekali nderes Qur’an. Tapi kebalikan dengan sosial medianya, di sana Juriyah sama sekali ndak memperlihatkan bahwa dia adalah orang yang dekat dengan Qur’an. Di feedsInstagramnya, dia malah terkesan seperti anak kekinian yang hitsbanget gitu.

Padahal saya adalah saksi di dunia nyatanya. Dalam keseharian, dia seringkali meminta tolong saya untuk menyimak deresan Qur’annya. Saya juga diam-diam sering mendapati dia menangisi Qur’annya. Ya karena, orang yang dekat dengan Quran itu gimana sih, ya. Seret sedikit, galau sebelanga. Dan dia baik hati dan ringan tangan sekali mengulurkan bantuan kepada saya. Dari awal dia memang ndak mau aja kelihatan wah, kece, keren, anak pesantren, di sosial medianya.

Terkadang dunia memang seperti ini. Dia yang setiap hari mendengungkan ajakan kebaikan di dunia maya, bahkan malah lebih banyak praktik kebaikan dari orang yang, kalau di dunia maya isinya racauan yang terkesan curcol tak berfaedah belaka. Terkadang, ya. Tidak semua. Maksudnya, hidup itu tidak sesempit persangkaan kita. Jadi, jangan sedangkal itu dalam melabeli seseorang.

Seorang kyai panutan pernah dawuh, memandang orang itu jangan dari kacamata syariat. Tapi kacamata hakekat. Artinya, memandang seseorang itu jangan dari luarnya. Tapi dari dalamnya. Dengan cara tidak sembarang berprasangka, Jadi, ndak asal saja dalam memberi penilaian.

Tidak masalah. Setidaknya dua jenis manusia ini tujuannya sama. Sama-sama berjalan menuju kebaikan. Yang satu mencoba menebar kebaikan melalui sosial media. Yang satu lagi mencoba menjadi baik di dunia nyata. (*nm)

BERI KOMENTAR