Review Black Mirror: Be Right Back—Sebuah Program Peniru Manusia

Dalam episode Be Right Back ini, meskipun Martha teramat bahagia karena Ash ada di sampingnya kembali, di waktu yang sama Martha tampak begitu depresi.

Ceroboh.com – Pada episode 1 untuk season 2 kali ini, Brooker menyajikan tentang sebuah teknologi canggih masa depan yang lagi lagi membuat kita takjub sekaligus merinding. Bagaimana tidak demikian? Sebuah layanan program mampu menirukan gaya chat, suara telepon—bahkan pada tingkat paling ekstremnya, sebuah tubuh sintesis berbentuk manusia bisa terlihat mirip sekali dengan aslinya.

Be Right Back diawali dengan adegan seorang pria bernama Ash yang saking asyiknya bermain sosial media dalam sebuah mobil, ia sampai tidak sadar dan tidak mendengar bahwa kekasihnya, Martha berbicara kepadanya. Hampir setiap waktu ia selalu saja online, menjelajahi ruang maya tanpa batas itu. Kita sebut saja dengan istilah social media-addict. Awalnya saja sudah terlihat sangat menyindir sekali tentang gambaran orang zaman sekarang yang lebih banyak menunduk ketimbang tengok kiri dan tengok kanan.

Suatu hari, Ash pamit kepada Martha untuk pergi. Martha khawatir sebenarnya. Tapi pada akhirnya Martha mengizinkan Ash pergi mengendarai mobil sendirian. Martha yang saat itu di rumah hingga malam hujan, ia terus saja diselimuti kekhawatiran dan kecemasan yang tidak biasa.

Lihat juga:Review Black Mirror: An Entire History of You

Beberapa waktu, di sela rasa cemasnya terhadap Ash, Martha menerima panggilan telepon yang memberitahukan bahwa Ash malam itu kecelakaan dan meninggal. Kejadian Ash yang meninggal karena kecelakaan ternyata bukan hal mudah bagi Martha untuk menerimanya. Bahkan ia bersedih berkepanjangan menyesali kepergian kekasihnya itu.

Review Black Mirror: Be Right Back
BLACK MIRROR SEASON 2 – EPISODE 1

Karena melihat Martha bersedih dan berlarut dalam kubangan kekabungan yang tak berhenti-berhenti, kemudian salah satu sahabat baik perempuannya menawarkan satu program layanan khusus yang bisa “menghidupkan kembali” seorang Ash alias, layanan khusus tersebut bisa digunakan untuk “berbicara langsung” dengan Ash yang sudah meninggal itu.

Awalnya Martha tidak percaya layanan  program tersebut mampu membuatnya menghidupkan Ash lagi melalui sebuah SMS/chatting lalu beralih ke telepon. Bagimana bisa? Iya. Program layanan tersebut merekap dan mendata semua postingan Ash di sosial media, kemudian algoritmanya membentuk ucapan dan postingan Ash di seluruh media sosial. Bahkan gaya SMS dan suara di dalam telepon sangat amat mirip dengan Ash.

Martha takjub sekaligus tersentuh karena layanan tersebut mampu menirukan suara dan gaya bicara serta karakter Ash yang dibaca dari seluruh sosial medianya. Lalu pada tingkat yang paling ekstrem, kemudian layanan tersebut menawarkan sebuah tiruan Ash  berupa tubuh sintesis yang berbentuk mirip sekali dengan Ash, yang di dalamnya menjalankan program yang menirukan Ash di sosial media. Peran teknologi yang paling ekstrem: memindah-alihkan perilaku dan karakter manusia dari sosial media ke dalam bentuk sintesis tubuh manusia yang sudah meninggal.

Seperti biasa, fokus cerita-cerita Black Mirror mengarah pada hal paling buruk yang mungkin terjadi jika kemajuan teknologi semakin canggih tercipta.

Dalam episode Be Right Back ini, meskipun Martha teramat bahagia karena Ash ada di sampingnya kembali, di waktu yang sama Martha tampak begitu depresi. Di sinilah definisi teknologi tidak akan mampu menggantikan eksistensi manusia—secanggih apapun teknologi tersebut. Martha depresi dikarenakan Ash hadir tapi tidak benar-benar  hadir, sebab ia bukan Ash yang sebenarnya.

Review lainnya: Review Black Mirror: Be Right Back

BERI KOMENTAR