Review Buku Bumi Manusia Karya Eyang Pram

Membaca Buku Bumi Manusia membuat kita merenungi lagi makna pemberontakan. Bahwa pemberontakan tak selalu buruk.

Review Buku Bumi Manusia
JudulBumi Manusia
PenulisPramoedya Ananta Tour
PenerbitLentera Dipantara
Tahun terbit2010
Jumlah halaman535 halaman
GenreFiksi

“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
– Pramoedya –


Ceroboh.com – Kutipan tersebut berada di halaman paling akhir buku Bumi Manusia yang menurut saya sungguh sangat mewakili seluruh isi bukunya.

Bumi Manusia adalah buku pertama dari rangkai tetralogi yang di antaranya berjudul Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Asal pembaca tahu saja, Bumi Manusia merupakan sebuah karya sastra legendaris yang dari proses penulisannya sudah tragedis dan dipenuhi kedramatisan ketika Pramoedya A. Tour yang akrab disapa Eyang Pram, sedang mendekam di balik jeruji. Tepatnya berada di Pulau Buru—yang kemudian orang-orang menyebut tetralogi ini dengan nama Tetralogi Buru. Tidak lain, Eyang Pram dipenjara disebabkan karena pemerintah menganggap beliau adalah seorang komunis.

Cerita Buku Bumi Manusia

Bercerita tentang seorang pemuda pribumi bernama Minke yang berdarah priyayi. Ia sengaja disekolahkan orang tuanya di sekolah HBS—sekolah yang dikhususkan untuk keturunan-keturunan Eropa yang tinggal di Hindia Belanda dan para pribumi yang tergolong priyayi—supaya tidak bodoh, kolot, terbelakang dan antimodernitas juga dipaksa patuh pada atasan.

Namun sayangnya, di HBS Minke banyak dibenci oleh teman-teman Eropanya dan bahkan ada yang memfitnahnya sehingga membuat Minke sempat dikeluarkan dari sekolah. Untungnya ada salah satu guru dari Belanda yang membela dan berpihak kepada pribumi Hindia Belanda. Ditambah dengan kelihaian Minke dalam dunia kepenulisan yang membuat tulisan-tulisannya dimuat di dalam Koran-koran terkenal Belanda.

Melalui tulisannya juga, ia menyuarakan pemberontakan tentang ketidakadilan kepada Hindia Belanda atas Eropa dan juga tentang kebudayaan keluarganya, Jawa.

Tokoh Pada Buku Bumi Manusia

Tokoh utama kedua setelah Minke adalah Nyai Ontosoroh yang di sini ia digambarkan sebagai seorang nyai yang bukan sembarang nya. Ia sadar kaum pribumi seperti dia hanya akan mendapatkan cacian, kemiskinan dan tidak berhak atas pendidikan maka ia segera berusaha keras untuk belajar dengan tujuan supaya kaum seperti dia tak lagi direndahkan, dicaci dan disepelekan.

Membaca Bumi Manusia membuat kita merenungi lagi makna pemberontakan. Bahwa pemberontakan tak selalu buruk. Jika suatu aturan yang mengurung kita terasa seperti merugikan dan kadangkala tak masuk akal, tentu saja kita harus melawan. Tapi melawanlah dengan adab, dengan tetap menerapkan norma kesopanan, dengan sikap layaknya seorang cendekia yang berpendidikan. Untuk menunjukkan, bahwa kita adalah makhluk yang memiliki akal. Dimana hal tersebut merupakan satu hal yang tak dimiliki oleh hewan.

Untuk menunjukkan, bahwa kita adalah makhluk yang memiliki akal. Dimana hal tersebut merupakan satu hal yang tak dimiliki oleh hewan. (*NM)

BERI KOMENTAR