Review Buku: Convenience Store Woman Karya Sayaka Murata

Sinopsis Buku Convenience Store Woman

Keiko isn’t normal. At school and university, people find her odd, and her family worries she will never fit in. To make them happy, Keiko takes a job at a newly opened convenience store where she finds peace and purpose in simple daily tasks. But in Keiko’s circle it just won’t do for an unmarried woman to spend her time stacking shelves and ordering green tea. As the pressure to find a new job – or worse, a husband – increases, Keiko is forced to take desperate action.

Review Buku: Convenience Store Woman
Fotonya @zoesbookcase_

Ulasan Buku

Pertama mau berkomentar tentang sampulnya yang lucu banget. Perpaduan warna pink dengan warna biru langit dengan ilustrasi yang ah, pokoknya lucu deh. Manis. Suatu hari kalau punya buku lagi cita-cita saya sama kayak sayaka murata aja. Pink campur biru. Hehehe.

Convenience Store Woman adalah novel ke-10 dari Sayaka Murata yang best-seller dunia. Buku ini bercerita tentang seorang wanita berusia 36 tahun yang telah bekerja di sebuah convenience store bernama Smile Mart di Kota Tokyo selama 18 tahun. Berbeda dengan umumnya orang-orang yang pasti merasa bosan dengan pekerjaan tersebut, Keiko justru sangat menikmati pekerjaan tersebut dengan penuh rasa bahagia. Sebagaimana sebuah musik, pekerjaan rutin tersebut seperti alunan nada yang mengalir indah di telinga.

Dia seperti perempuan yang tak punya ambisi apa-apa. Yang penting bekerja, bisa menikmati hidup. Selesai. Keiko juga tidak kepikiran buat memiliki pasangan, menikah.

Tentu saja orang-orang yang ada di sekitarnya mengganggap dia gadis yang sangat aneh. Ketika orang lain ingin mencari pekerjaan yang lebih layak dari hanya sebagai “mbak-mbak indomaret”, dia tidak berambisi untuk itu. Dia sangat menikmati hidupnya dengan hanya bekerja menjadi seorang pegawai toko serba ada.

Masalahnya adalah, apa yang salah dengan pekerja toko? Hal ini ada dalam kebahagiaan hidup Keiko. Ketika Keiko ditanya begitu, ia hanya bisa menjawab,

“Saya selalu dianggap berperilaku aneh. Dan menjadi pekerja toko serba ada seperti ini cukup menutupi keanehan saya supaya tetap dianggap normal.”

Lainnya:Review Novel Rindu Karya Tere Liye

BERI KOMENTAR