[Review Buku] Dear Tomorrow ~ Notes to My Future Self

Manusia biasa yang pernah jatuh lalu bangkit dan yang pernah gagal tetapi berusaha keras untuk tak menyerah – Buku Dear Tomorrow.

Review Buku Dear Tomorrow; Notes to My Future Self
Judul BukuDear Tomorrow: Notes to My Future Self
PenulisMaudy Ayunda
PenerbitBentang Pustaka
Tahun TerbitApril 2018
Jumlah Halaman192
GenreSelf-Improvement  (Pengembangan Diri)

Sinopsis Buku Dear Tomorrow

CEROBOH – Dear Tomorrow adalah buku perdana seorang aktris sekaligus singer-songwriter dari Indonesia yang sangat bertalenta, dan menjadi salah satu inspirator milenial bangsa, Maudy Ayunda.

Terciptanya buku ini mungkin ada hubungannya dengan dirinya yang pernah dikepung kerisauan untuk melanjutkan kuliah Strata 2-nya beberapa waktu lalu.

Kak Mod bimbang antara melanjutkan di Harvard University dengan jurusan Pendidikan, atau di Standford University dengan jurusan Administrasi Bisnis.

Buku Dear Tomorrow yang ditulis dalam edisi Bahasa Inggris ini telah menyadarkan saya. Bahwa seorang Maudy Ayunda, meskipun orang-orang mengenalnya sebagai perempuan cerdas dan penuh bakat yang telah mencapai banyak sekali hal-hal luar biasa.

Isi Buku Dear Tomorrow

Akan tetapi dia juga seorang manusia biasa. Manusia biasa yang pernah jatuh lalu bangkit dan yang pernah gagal tetapi berusaha keras untuk tak menyerah.

Sesuai dengan temanya, buku ini memang buku self-improvement. Yang kemudian tentu mengubah kacamata saya dalam memandang dunia. Bahwa setiap kali saya membalik perhalaman bukunya, Kak Mod berhasil membuat saya tersenyum-senyum sendiri semacam,“Duhh, Kak Mod ini ya….”

Membuat saya tergerak untuk bersemangat melangkah lagi mengejar mimpi-mimpi yang sempat terpendam, mengingatkan lagi tentang tujuan awal yang pernah saya niatkan. Dan yang terpenting membuat saya membuang rasainsecure, ragu-ragu dan takut yang bersarang di dalam diri seketika.

Pemain Film Perahu Kertas ini seolah memberitahukan kepada saya: kamu di masa depan adalah kamu yang lebih baik dari kamu yang sekarang atau kamu di masa lalu. Ayo, kejarlah cita-citamu, bahwa kamu masih memiliki peluang dan harapan.

Dear Tomorrow ditulis dalam banyak wujud. Seperti puisi, kutipan-kutipan, cerita-cerita keseharian, dilengkapin foto-foto Kak Mod yang cantik-cantik dan elegan.

Kak Mod juga menceritakan tentang kebiasaannya. Hal-hal yang disukai dan yang tak disukainya, daftar-daftar playlistfavorit pada keadaan-keadaan tertentu dan sebagainya. Buku ini berisi tentang empat pembahasan utama, yaitu:

  1. Notes on being yourself (catatan tentang menjadi diri sendiri)
  2. Dreams (mimpi dan cita-cita)
  3. Love (cinta)
  4. Mindsets(pola pikir)

Pembahasan favorit saya ada pada tema kedua tentang dreams. Cerita Kak Mod yang membahas tentang saat-saat ketika lingkungan sekitar mendorong dan mendesak dirinya masuk ke dalam bumi, sementara ia tetap ingin melesat terbang ke langit untuk terus mengejar mimpi yang ingin ia raih.

Meskipun begitu, ia tak menyerah untuk tetap membuktikan bahwa ia adalah seorang pemimpi yang ulung, yang berhasil lolos dari rintangan-rintangan yang menghadang.

Pembahasan favorit kedua saya ada pada tema ketiga, tentang Love. Kak Mod bilang bahwa untuk mencintai orang lain, cintailah terlebih dahulu diri sendiri. Karena apa? Karena terkadang, orang-orang yang kita cintai dalam hidup bukan menjadi obat tapi malah menjadi toxic.

Desain Buku Dear Tomorrow

Untuk desain hardcoveryang terlihat aesthetic dengan foto Kak Mod yang melihat ke arah jendelaatau apapun orang menyebutnyapatut diacungi empat jempol sekaligus.

Tidak ramai dan terlihat elegan. Karena tak banyak hiasan aneh-aneh yang malah membuat sebuah sampul menjadi lebih aneh. Jadi, saya merasa nyaman saat membacanya.

Yang disayangkan dari buku ini adalah harganya yang sedikit mahal. Mungkin karena harcover dan personal branding kali, ya. Hehehe.


Lihat juga:


Penutup

Well,

“#DearTomorrow,

Remember that your journey is your own; do not allow yourself to be pressured if the source of the pressure is somebody else other than yourself. Others are entitled to their lives and opinions, as you are to yours.”

Last but not least, Dearest Maudy Ayunda,

Terimakasih telah menulis. Terimakasih telah menumbuhkan kembali banyak sekali sayap-sayap impian yang sempat patah. Saya tunggu karya berikutnya, yaaa.

BERI KOMENTAR