[Review Buku] Sabtu Bersama Bapak Karya Adhitya Mulya

Jujur, saya sangat jatuh hati kepada Buku Sabtu Bersama Bapak karena pada setiap paragraf yang ada, tersebar banyak sekali nilai-nilai keluarga yang dikemas dengan cara ringan dan hangat.

PenulisAdhitya Mulya
PenerbitGagas Media
Tahun Terbit2014
Jumlah Halaman280
GenreNovel Fiksi

Kutipan Buku

“Hai, Satya! Hai, Cakra!” Sang Bapak melambaikan tangan.
“Ini Bapak.
Iya, benar kok, ini Bapak.
Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.

Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian.
Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian.
Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian.
Ingin tetap dapat mengajarkan kalian.
Bapak sudah siapkan.
Ketika punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.
I don’t let death take these, away from us.
I don’t give death, a chance.
Bapak ada di sini. Di samping kalian.
Bapak sayang kalian.”


Ini adalah sebuah monolog pemantik awal yang menyebabkan novel Sabtu Bersama Bapak mengiring diri saya untuk menyeduh secangkir kopi lalu meminta tangan saya untuk membuka halaman berikutnya.

Sinopsis Buku Sabtu Bersama Bapak

Berawal dari keluarga kecil seorang ayah bernama Gunawan Garnida yang divonis sakit. Diperkirakan penyakit tersebut membuatnya hanya akan mampu bertahan hidup selama satu tahun kedepan.

Ia sadar, masih panjang perjalanan hidup kedua anaknya, yang kala itu masih kecil, dan masih butuh pemdampingan serta nasihat-nasihat serta nilai-nilai kehidupan dari seorang ayah.

Dari situlah Gunawan memiliki inisiatif untuk memanfaatkan setahun berharga tersebut dengan sebaik-baiknya untuk merekam seluruh nasihat, nilai-nilai dan pelajaran yang sekiranya tak bisa disampaikan seorang ayah kepada anak-anaknya yang akan beranjak dewasa, ketika ia meninggal kelak.

Lalu sebuah ide muncul dalam benak. Setiap malam ia bersama istrinya diam-diam merekam banyak sekali video, di saat kedua anak laki-lakinya masih dibius oleh lelap.

Ternyata benar, kira-kira setahun, Gunawan—sang ayah menghembuskan nafas terakhirnya. Ibu Itje, sang istri, lalu menjalankan wasiat Gunawan Garnida: memutar rekaman-rekaman video setiap Sabtu sore—yang kemudian disambut dengan sukacita oleh kedua anak lelakinya, Satya dan Cakra.

Kesan Setelah Membaca

Jujur, saya sangat jatuh hati kepada Buku Sabtu Bersama Bapak karena pada setiap paragraf yang ada, tersebar banyak sekali nilai-nilai keluarga yang dikemas dengan cara ringan dan hangat.

Terbukti dari saya yang hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja untuk mengkhatamkan Sabtu Bersama Bapak. Juga terasa menyenangkan saat membaca karena unsur komedi dan sense of jokes yang ada di dalamnya, bahkan membuat saya ngakak-ngakak sendiri sepanjang membaca.

Adhitya Mulya, sang penulis, sangat sukses membuat pembaca mengambil hikmah tanpa harus menggurui dan menceramahi. Saya jadi sadar, cerita adalah salah satu cara efektif untuk menyampaikan hikmah tanpa harus menggurui dan terkesan menceramahi.

Saya juga jadi memahami, bahwa untuk membuat sebuah karya bagus, dibutuhkan riset yang sangat panjang dan lama. Ia menuliskan di dalam bukunya, dibutuhkan waktu 36 tahun untuk membuatnya dan dibutuhkan 2 tahun untuk menuliskannya.

Novel kelima karya Aditya Mulya ini juga membuat saya menyadari akan pentingnya perencanaan belajar mendidik anak di masa depan, tentang cara memilih pasangan, juga tentang menjalani hidup dengan cara yang lebih bijak namun tetap terasa asyik.

Satu adegan manis yang membuat saya senyum-senyum sendiri ada pada halaman 174, adegan Cakra meminta Ayu untuk menjadi istrinya,

“Ayu…” Dia menatap Ayu dalam-dalam. “Terima saya jika kamu lihat bahwa saya adalah perhiasan dunia dan akhirat yang baik untuk kamu.”

“….”

“Karena…..
kamu adalah perhiasan dunia dan akhirat untuk saya.”
Ayu terdiam. Ini adalah kali pertama, Cakra membuat kakinya lemas.

BERI KOMENTAR