Review Buku Teman Imaji Karya Mutia Prawitasari

Buku Teman Imaji ini masih menjadi juara dalam hati saya sejak tiga tahun terakhir. Saya bahkan membacanya kembali hingga khatam 3 kali karena isinya yang syarat makna.

Review Buku Teman Imaji
JudulTeman Imaji
PenulisMutia Prawitasai
PenerbitCV IDS
Tahun Terbit2015
Jumlah Halaman390
GenreFiksi

Ceroboh.com – Pertama-tama, buku Teman Imaji saya dapat dari PO di Tumblr pemilik buku, Mbak Prawita Mutiasari pada tahun 2015 lalu. Saya tertarik dengan buku ini karena beberapa kutipannya diposting Mas Yunus—suami Mbak Uti—dan kemudian berhasil membuat saya penasaran. Sepertinya menarik sekali jika dilihat dari kutipan-kutipannya di Tumblr, pikir saya.

Sampul Buku Teman Imaji

Sampul Teman Imaji memang terlihat seperti buku yang kekanak-kanakan dan tidak terlihat elegan, tapi justru inilah yang membuat buku ini menjadi terlihat lucu dan unik. Layout-nya juga tidak membuat mata capek saat membaca.

Mumpung saya lagi antusias- antusiasnya dengan Teman Imaji, jadi buku ini yang akan menjadi resensi buku pertama yang akan saya bagikan. Meski bagi sebagian besar orang, terutama followersnya Mbak Prawita Mutiasari, buku Teman Imaji ini sudah menjadi topik lama. Hehehe…

Buku Teman Imaji Juara di Hati

Buku ini masih menjadi juara dalam hati saya sejak tiga tahun terakhir. Saya bahkan membacanya kembali hingga khatam 3 kali karena isinya yang syarat makna. Membaca buku ini membuat air mata saya pecah sekaligus hati saya basah kuyup.

Bagaimana tidak? Ceritanya begitu jujur dan apa adanya. Tanpa bumbu drama seperti cerita biasanya. Karakter-karakter yang dimiliki setiap tokoh juga sangat kuat. Apalagi setiap babnya sengaja dibuat satu bab rata-rata satu halaman. Jadi, terasa renyah, ringan dan mudah sekali untuk diingat-ingat.

Apalagi buku ini bercerita tentang kereta. Hujan. Bis. Halte. Tentang keluarga. Ayah. Ibu. Sahabat. Tentang cita-cita. Kuliah. Tugas.Wisuda. Pekerjaan. Tentang makna menunggu. Memperjuangkan. Melepaskan. Mengikhlaskan. Memaafkan. Mensyukuri—yang sangat dekat dengan selasar-selasar kehidupan remaja seumuran saya yang dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan. Dan semua jawaban ada pada setiap bab. Saya jadi menemukan sudut pandang baru dan menemukan cara hidup baru.

Menceritakan Buku Teman Imaji

Saya tidak yakin ini bisa disebut resensi. Karena saya hanya ingin menceritakan saja keseruan-keseruan dan bekas-bekas makna mendalam perasaan saya saja setelah membaca buku ini. Yang sedikit banyak mengubah arah kehidupan sehari-hari saya menjadi lebih memiliki makna.

Bagai meminum teh hangat, saya menegak pelan-pelan setiap halaman demi halaman dalam setiap paragraf yang disajikan penuh dengan cinta ini. Saya menikmatinya dimana-mana. Dikereta, di bus, dikamar, dikampus bahkan dipinggir jalan–ketika dihalte menunggui kendaraan umum, misalnya. Karena buku ini sangat tidak direkomendasikan untuk dibaca sekali duduk. Perlu diresapi dulu dalam jeda beberapa waktu, lalu kembali membaca lagi setelah mengambil jeda tersebut.

Saya benar-benar menikmati setiap katanya. Begitu membuat perasaan saya campur aduk tumpah ruah menjadi satu adonan segar. Bukan novel islami. Tapi saya banyak menemui hadist-hadist dan ayat-ayat Al-Qur’an yang berserakan yang disajikan dengan cara ringan dan tidak terkesan menghakimi dan menceramahi. Yang hal tersebut berhasil membuat diri saya tertohok dan tidak bisa untuk tidak setuju. Anggukan demi anggukan selalu ada dari setiap paragraf yang saya baca.

Isi Cerita Buku Teman Imaji

Sangking banyaknya percakapan yang syarat makna, hampir setiap halaman banyak coretan-coretan bolpoin merah. Habisnya hampir semua kalimatnya quotable yang membuat saya begitu antusias dan ingin terus membalik halaman tanpa mengharap halamannya habis.

Lebih dari bercerita tentang kisah Kica, Banyu dan Adit dan teman-teman lainnya, buku Teman Imaji mengisahkan tentang banyak hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari tanpa terlihat dibuat-buat dan begitu jujur. Sekali lagi saya mengatakannya. Benar-benar jujur.

Kisah cintanya tak sekedar cinta ala-ala remaja. Tapi lebih dari itu. Cinta kepada Tuhan, kepada keluarga, kepada teman dan sahabat. Juga kepada mimpi-mimpi dan cita-cita yang dititipkan di langit. Indah sekali.

Yang terpenting, Teman imaji membuat saya memahami konsep do’a. Bahwa, jawaban dari segala do’a adalah iya. Iya, boleh. Iya, nanti. Iya, tapi yang lain.

Terimakasih, Mbak Mutia. Film pecahnya berhasil membuat air mata saya pecah! Selamat berkarya hingga nafas sampai ujung! 🙂 (*NM)

BERI KOMENTAR