Review Black Mirror: Fifteen Million Merits—Komersialisasi Pemberontakan Oleh Media

This episode showing how for now’s media works. Well. Before you read more, you should know this article contains some little bit spoilers.

Ceroboh.com – Orang-orang menyebutnya dengan istilah dystopian. Suatu kondisi yang melukiskan sebuah masa depan. Di mana kondisi itu seolah memberikan isyarat kepada orang-orang bahwa dunia ini akan sangat rusak (tidak ideal) apabila sebuah sistem tertentu mengambil alih kontrol yang ada. Dunia yang semula baik-baik saja menjadi rusak disebabkan oleh perbedaan ekonomi bahkan perbedaan sosial yang telah berjalan.

Episode 2 season 1 dalam serial Black Mirror dengan judul Fifteen Millions Merits ini memberian gambaran teknologi canggih yang mungkin akan tercipta di masa mendatang. Di mana hampir seluruh kehidupan nyata digantikan dengan layar-layar digital. Pemandangan pagi diganti dengan pemandangan layar digital, game, dan segala fasilitas hampir menggunakan layar-layar digital. Bahkan seluruh tembok di kamar mereka dipenuhi dengan layar digital. Ngeri sekali, ya.

Lihat juga: Review film Iqro My Universe

Bercerita tentang seorang pria berkulit hitam bernama Bing yang mendapatkan warisan dari kakaknya berupa poin sebesar 15 million merits. Iya, merits adalah satuan yang dipakai di zaman itu. Dan untuk menambah dan menukar poin tersebut, ada sebuah pekerjaan di mana seseorang harus mengayuh di tempat gym guna menambah lagi poin-poin untuk dikumpulkan.

Nah, poin itu tuh nantinya dijadikan pengganti nilai tukar uang gitu, loh. Jadi, poin-poin yang kita punya bisa ditukar dengan fasilitas-fasilitas dan kebutuhan sehari-hari. Seperti menonton acara-acara tertentu, nge-game. Juga kebutuhan sehari-hari seperti makanan, pasta gigi dan sejenisnya.

Suatu hari, Bing melakukan aktivitas bersepeda untuk mengumpulkan poin di tempat gym. Dan saat itu matanya tertuju pada satu perempuan cantik di seberang tempatnya bersepeda. Bing kemudian mendekatinya perempuan tersebut dong.

Namanya Abi. Ketika Bing pada satu kesempatan mendengar Abi bernyanyi iseng, suaranya merdu sekali di telinga Bing. Dan saat itu juga Bing kepikiran untuk memasukkan Abi ke dalam sebuah kompetisi bakat bernama Hot Shot. Karena waktu itu, Bing mikir kalau Abi menang mengikuti audisi tersebut, mungkin hidupnya akan lebih baik ketimbang hanya bersepeda di gym.

Dan… untuk mendaftarkan diri masuk ke dalam audisi Hot Shot tentu saja akan menghabiskan poin yang sangat mahal. 15 million merits, cuy! Habislah sudah poin Bing saat itu untuk membeli tiket audisinya. Ya ndak apa-apa lah ya, namanya juga cinta ya, kan. Well. Abi yang malu-malu mau, akhirnya menerima tawaran Bing. Maka mendaftarlah Abi ditemani dengan Bing ke audisi bakat itu.

Audisi dimulai. Abi bernyanyi dengan merdunya. Menurut juri sih, Abi memang sudah bagus suaranya, keren. Tapi karena mungkin membanjirnya penyanyi yang ada, Abi tetap saja tergolong penyanyi yang belum mencapai tahap excellent.

Apa yang terjadi selanjutnya? Tak disangka-sangka, salah satu juri justru menyarankan Abi untuk ikut dalam sebuah pekerjaan yang bergerak di bidang pornografi. Dan keselnya saya tuh, juri lain menyetujui. Dan yang bikin saya makin kesel lagi, ketika para juri meminta pendapat penonton, para penonton malah bersorak sorai untuk menyemangati Abi supaya menerima tawaran tersebut. Akhirnya tanpa kesadaran penuh, Abi menyetujui tawaran tersebut. Dan ya, Abipun bekerja di dunia pornografi.

Bing marah. Ia tidak terima kalau Abi terjun di dunia pornografi. Saat itu juga, Bing merencanakan sebuah balas dendam. Siang malam ia mengayuh sepeda tanpa henti untuk mendapatkan poin merits yang cukup guna mengikuti audisi yang sama. Tak hanya mengayuh sepeda, ia juga berlatih dance gitu.

Di tengah penampilandance-nya, Bing menyuarakan kebenaran dalam isi hatinya dengan cara mengeluarkan pecahan kaca dari saku—untuk mengancam para juri kalau pembicaraannya dihentikan.

BLACK MIRROR SEASON 1 - EPISODE 2
FIFTEEN MILLION MERITS : SEASON 1 – EPISODE 2

Dengan nada menggebu dan penuh amarah, Bing menyumpah serapahi rusaknya sistem-sistem yang ada. Bing menguntuk-ngutuk segala fasilitas yang disediakan. Bing mengeluarkan unek-unek yang kala itu belum pernah ada satupun yang memrotes.

Para pentonton diam. Mereka seperti menyetujui suara hati Bing. Ketika mereka juga ingin memberontak atas rusaknya sistem yang ada, salah satu juri segera mengambil tindakan. Bahwa tindak protes Bing yang ‘anarki’ terhadap sistem itu, pemberontakannya, bisa jadi sebuah hiburan. Dikomersialkan dan dijadikan konten seru untuk masyarakat.

Baca juga: Review Black Mirror secara umum

What’s the last scene? Bing malah menjadi artis terkenal dan memiliki acara televisi sendiri. See? Ia menjadi sesuatu yang melebihi kerusakan sistem tersebut. Then, how about Abi? Alih-alih diselamatkan oleh Bing, ia tetap terjebak dalam kubangan dunia pornografi.

Kalau episode satu menggambarkan pengaruh teknologi terhadap kehidupan, episode ini menggambarkan pengaruh kehidupan terhadap teknologi. Maksudnya gini. Berita-berita dan media zaman sekarang tuh nurutin pasar, nurutin ego para penonton. Seperti keberpihakan media kepada satu suara, atau budaya hedonisme masyarakat yang membuat televisi dan media menayangkan hal-hal yang berkaitan dengan budaya hedon-hedon. Tidak peduli hal tersebut ada edukasinya apa nggak. Bermanfaat apa enggak. Yang penting mendapat ‘klik’ banyak.

Bahkan di Indonesia para influencer terutama di Youtube membuat konten-konten yang kadang ndak jelas apa isinya. Yang penting dapet subscribe banyak, like dan share berkali-kali, lalu jadi khaya raya deh~

Terus kita sebagai publik, netizen, tanpa sadar ternyata dimanfaatin untuk dijadikan ladang emas buat mereka. Sadar ndak, sadar ndak?

Ah, teknologi zaman sekarang semakin wagu saja, Gusti~

Lihat juga: Review Film Black Mirror Season 1 Episode 1

BERI KOMENTAR