Review Black Mirror: The National Anthem—Dahsyatnya Dampak Penyebaran Berita Melalui Teknologi

Finally I got my self back to review this first Black Mirror episode. Hahaha.

Well. Before you read more, you should know this article contains some little bit spoilers.

Ceroboh.com – Sebelumnya kamu udah tahu kan, some general review about this serial Black Mirror in that post? Sedikit mengulas lagi, Black Mirror adalah kumpulan serial antologi film buatan Charlie Brooker yang setiap filmnya berdurasi kurang lebih satu jam.

Tujuan dibuat serial Black Mirror tidak lain yait memberikan pelajaran kepada kita (sebagai pengguna teknologi) tentang kemajuan teknologi dan imbas dari teknologi tersebut (yang cenderung lebih ke arah negatif kalau salah dalam menggunakannya). Mengeksplorasi kritik moral dan sosial dalam bentuk cerita-cerita satir dan gelap.

Episode paling awal dimulai dengan hilangnya secara tiba-tiba seorang putri kerajaan Inggris bernama Susannah yang ternyata dia telah diculik dan disandera. Diculiknya Putri Susannah diketahui melalui sebuah video yang diunggah di platform Youtube.

Dalam video tersebut, penculik memperlihatkan Putri Susannah yang meratap dan menangis di sebuah kursi dalam keadaan tangan diikat. Untuk menebus Putri Susannah, penculik kemudian memberikan sebuah jaminan (lebih tepatnya sih, ancaman) kepada perdana menteri berupa sebuah tebusan.

Nggak pada umumnya seorang penculik meminta sebuah tebusan berupa uang, penculik ini meminta sebuah tebusan yang tidak masuk akal dan gila! Yaitu meminta perdana menteri melakukan hal gila dengan bersedia melakukan hubungan seksual dengan seekor babi yang disiarkan langsung di seluruh stasiun televisi nasional. Kalau perdana menteri nggak mau melakukannya, maka pukul empat sore itu juga, Putri Susannah akan dibunuh.

The National Anthem
The National Anthem – Black Mirror Season 1 Episode 1

Hari itu, perdana menteri yang diperankan oleh Rory Kinnear, tiba-tiba dibangunkan oleh anak buahnya. Keduanya tampak cemas karena ternyata video tentang Putri Susannah yang diculik telah bocor dan viral di internet. Tentu saja, sosial media yang semakin tak terkendali telah membuat segala jenis berita dan informasi tidak bisa diredam dengan mudah. Berita tentang PM yang dituntut untuk melakukan hal gila pada akhirnya diketahui oleh publik.

Cekcok kemudian terjadi. Antara perdana menteri dengan istrinya, antara perdana menteri dengan seluruh anak buahnya, antar tokoh politik dalam istana, antar wartawan dan kru media terutama pada masyarakat luas.

Istri dari sang perdana menteri tentu saja merasa keberatan. Salah satu stasiun televisi bahkan membuat sebuah poling tentang pemenuhan permintaan penculik. Dan sebagian besar dari mereka juga berpendapat untuk menolak permintaan penculik tersebut.

Karena istri PM keberatan didukung publik yang juga menolak, akhirnya tindakan licik dilakukan. Dibuatlah sebuah rencana ketika melakukan seks dengan babi, aktornya diganti dengan yang lain dan seluruh stasiun televisi melakukan sensor. Upaya lain juga dilakukan. Pihak PM mencoba menjebak penculik dengan menelusuri jejak dan lokasi penculik. Pers juga berjuang untuk melaporkan hal gila ini. Tentu saja penculik tidak sebodoh itu. Sayang seribu sayang, rencana tersebut tak membuahkan hasil sama sama sekali.

Mengetahui perdana menteri berbuat curang, penculik akhirnya memnberikan ancaman lagi kepada perdana dengan mengirimkan satu lagi video di Youtube yang di dalamnya menayangkan sang Putri yang menjerit kesakitan karena jarinya dipotong.

Akhirnya PM tidak ada pilihan lain. Mau nggak mau, berdasarkan poling untuk yang kedua kalinya, demi menyelamatkan putri kerajaan, sebagian besar masyarakat menyetujui untuk, lebih baik PM memenuhi kemauan sang penculik.

Waktu tidak banyak lagi. Hari itu telah tiba. Babi telah diturunkan dari sebuah truk. Perdana menteri menuju lokasi yang telah ditentukan. Ia dengan muka jijik dan ingin muntah, dipaksa untuk memenuhi permintaan penculik. Ditayangkan oleh seluruh stasiun televisi pukul empat sore tepat. Ekpresi penonton campur-campur. Antar bingung, jijik, miris, kasihan dan tersentuh. Mengerikan sekali.

Adegan ditutup dengan menunjukkan seorang lelaki yang melepaskan sang putri kerajaan. Dan lelaki tersebut ternyata adalah pelakunya. Setelahnya, dia gantung diri.

Jika kita tarik mundur, The National Anthem memberikan pemahaman tentang betapa dahsyatnya kekuatan dan dampak dari teknologi digital. Konflik tercipta berkat beberapa teknologi digital yang ada. Diawali dengan Youtube, stasiun televisi, serta TTWW Twitter (disebutkan juga videonya menjadi sebuah TTWW di Twitter).

Coba cermati lebih dalam. Apa yang membuat masyarakat dan perdana menteri serta seluruh anak buahnya saling terhubung? Yaps! Internet. Internet telah berhasil membuat seluruh manusia di dunia menjadi seperti terasa sangat dekat bahkan tak ada sekat.

Episode berdurasi 44 menit ini secara satir mengkritik media massa tentang betapa membabi butanya berita putri kerajaan yang diculik, keinginan penculik yang harus ditayangkan secara serentak di seluruh stasiun televisi, tentang kekuatan opini publik yang tak terbendung dan betapa mudahnya publik menelan segala berita yang ada.

Lihat juga: Review Serial Black Mirror : Gambaran Film

BERI KOMENTAR