Review Black Mirror: Serial British Yang Bikin Takut Main Internet

Review Black Mirror – Well, kalau kalian belum pernah mendengar serial British dengan judul “Black mirror” ini. So, let me explain you generally here and, check it out now!

Review Black Mirror

Before you read more, you should know this article contains some little bit spoilers of Black Mirror rewind series.

Ceroboh.com – Jadi, Black Mirror merupakan sebuah serial antologi film dari British (Britania Raya) hasil karya seorang penulis naskah, pengarang, juga produser bernama Charlie Brooker.

Ketika awal-awal ditayangkan oleh zeppotron, Black Mirror ternyata berhasil membuat pihak Nelflix tertarik. Akhirnya, antologi gelap dan sarkas ini diminta Netflix. Kemudian sukses menuai banyak sekali apresiasi tinggi dari berbagai negara (termasuk Indonesia).

Bahkan, rating-nya mencapai 9/10 dengan persentase 94 persen. Sampai 2019 ini, saya telah menonton sebanyak 5 season yang setiap season-nya berkisar antara 3-6 episode. Kalau nggak salah sih, totalnya ada 22 episode.

Black Mirror mengangkat tema-tema yang berhubungan dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat era milenial masa kini. Juga berkaitan erat dengan pesatnya kemajuan teknologi yang ada (lebih pesat dan maju ketimbang teknologi yang kita miliki sekarang).

Karena setting yang digunakan seperti setting sekitar 50 tahunan ke depan, gitu. Nah, fokus utama Black Mirror ini tuh, ada pada kemungkinan paling buruk yang akan terjadi kepada masyarakat dan personal yang saling terhubung satu sama lain. Instead of, kemajuan teknologi yang tujuan awalnya memudahkan.

Kalau ditanya apa kesan pertama setelah menonton Black Mirror, I’m totally speechless. Bahkan, ada beberapa episode yang saya mesti berpikir ulang dulu apa makna ceritanya—ya karena saking gelap dan dalemnya kali, ya.

For me, all is like almost scary stories I’ve ever watched, gitu loh. Karena serial ini berhasil membuat saya, Yaa Robb… Langsung takut mainan internet dong!

Coba lihat pada season 3 episode 6 berjudul “Hated in The Nation”. Episode ini bercerita tentang pembunuhan sadis yang disebabkan oleh tagar yang ada di sosial media, dengan autonomous drone insects yang menjadi pembunuh orang-orang terkenal (sebut saja influencer). Di mana ada bagian buruk pada diri influencer tersebut yang dibenci oleh masyarakat.

Kemudian mereka meluapkan kekesalannya dengan membuat tagar di sosial media. Dan menyebabkan sistem serangga buatan tersebut menyerang influencer sampai dia meninggal.

Padahal, itu yang kesal nggak tahu akibat terburuknya: terbunuh. Kan, ngeri. Cuma gara-gara tagar, orang bisa meninggal. Makanya, saya sekarang jadi lebih berhati-hati dengan tagar-tagar yang sedang trending.

Black Mirror juga gambaran atas diri kita sendiri. Coba lihat episode“White Bear”. Episode ini bercerita tentang seorang perempuan. Sejak awal dia sadar dari pingsannya (dalam keadaan ingatan kosong), dia telah dikejar-kejar oleh sekelompok ‘orang jahat’ yang direkam oleh masyarakat tanpa ada yang mencoba membantu perempuan tersebut.

Iya, tujuan masyarakat memang cuma buat ngerekam. Bukan membantu. Dari episode ini, kita sebagai netizen sebenarnya secara tidak sadar telah dieksploitasi oleh para influencer, loh. Sadar, nggak? Hahaha.

Lalu episode lain berjudul “Nosedive” yang ada di season 3 episode 1. Di episode ini, media sosial tak hanya dijadikan sebagai media untuk bercerita dan membagikan isi pikiran dan hati. Akan tapi telah dijadikan sebagai nilai tukar selain uang.

Eksistensi seseorang atau suatu tempat dinilai dari seberapa banyak rating yang didapatkan. Beli rumah harus punya rating sekian. Mengikuti acara-acara tertentu syaratnya harus memiliki rating sekian. Tentu kita tahu, rating dan jumlah followers di zaman milenial ini sedikit banyak telah menjadi nilai tukar pada kehidupan kita, bukan?

Belum episode lain seperti alat untuk rewind memori-memori masa lalu, menggandakan kesadaran seseorang lalu dipindahkan ke dalam kesadaran orang lain, pengeskploitasian privasi media sosial seseorang, alat pelacak orang tua untuk memantau anaknya.

Juga mengulang kepribadian seseorang dalam bentuk kopian manusia yang kepribadiannya dilihat dari data-data yang ada di sosial medianya. Dan masih banyak lagi ‘case-case’ lain serupa.

Mengerikan, bukan?

Yah, meski memang tujuan awal diciptakannya teknologi buat memudahkan. Tentu saja akan berakibat fatal kalau nggak digunakan dengan hati-hati.

Well, that’s all uraian umum saya tentang Black Mirror. Saya sarankan, nontonnya bareng orang lain supaya mikirnya bareng, supaya parnonya juga bareng. Hahaha. Oh iya, Nanti review setiap episodenya akan saya ulas satu persatu pada postingan berikutnya.

Pesan saya satu, hati-hati di internet!


Review lengkap Black Mirror Season 1:


BERI KOMENTAR